.... Para santri/siswa perlu dipersiapkan sejak dini dengan seperangkat ilmu dan keterampilan yang cukup untuk menyertai perkembangan kehidupan modern yang kian kompleks ....

AKHLAQ


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Akhlaq

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Definisi

Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.
Dalam Encyclopedia Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.
Syarat

Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.
Perbuatan yang baik atau buruk.
Kemampuan melakukan perbuatan.
Kesadaran akan perbuatan itu
Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk
Sumber

Akhlak bersumber pada agama. Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang. Pembentukan peragai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya. Lingkungan yang paling kecil adalah keluarga, melalui keluargalah kepribadian seseorang dapat terbentuk. Secara terminologi akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Peragai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.

Budi pekerti
Budi pekerti pada kamus bahasa Indonesia merupakan kata majemuk dari kata budi dan pekerti . Budi berarti sadar atau yang menyadarkan atau alat kesadaran. Pekerti berarti kelakuan. Secara terminologi, kata budi ialah yang ada pada manusia yang berhubungan dengan kesadaran, yang didorong oleh pemikiran, rasio yang disebut dengan nama karakter. Sedangkan pekerti ialah apa yang terlihat pada manusia, karena didorong oleh perasaan hati, yang disebut behavior. Jadi dari kedua kata tersebut budipekerti dapat diartikan sebagai perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia. Penerapan budi pekerti tergantung kepada pelaksanaanya. Budi pekerti dapat bersifat positif maupun negatif. Budi pekerti itu sendiri selalu dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Budi pekerti didorong oleh kekuatan yang terdapat di dalam hati yaitu rasio. Rasio mempunyai tabiat kecenderungan kepada ingin tahu dan mau menerima yang logis, yang masuk akal dan sebaliknya tidak mau menerima yang analogis, yang tidak masuk akal.
Selain unsur rasio di dalam hati manusia juga terdapat unsur lainnya yaitu unsur rasa. Perasaan manusia dibentuk oleh adanya suatu pengalaman, pendidikan, pengetahuan dan suasana lingkungan. Rasa mempunyai kecenderungan kepada keindahan  Letak keindahan adalah pada keharmonisan susunan sesuatu, harmonis antara unsur jasmani dengan rohani, harmonis antara cipta, rasa dan karsa, harmonis antara individu dengan masyarakat, harmonis susunan keluarga, harmonis hubungan antara keluarga. Keharmonisan akan menimbulkan rasa nyaman dalam kalbu dan tentram dalam hati. Perasaan hati itu sering disebut dengan nama “hati kecil” atau dengan nama lain yaitu “suara kata hati”, lebih umum lagi disebuut dengan nama hati nurani. Suara hati selalu mendorong untuk berbuat baik yang bersifat keutamaan serta memperingatkan perbuatan yang buruk dan brusaha mencegah perbuatan yang bersifat buruk dan hina. Setiap orang mempunyai suara hati, walaupun suara hati tersebut kadang-kadang berbeda. . Hal ini disebabkan oleh perbedaan keyakinan, perbedaan pengalaman, perbedaan lingkungan, perbedaan pendidikan dan sebagainya. Namun mempunyai kesamaan, yaitu keinginan mencapai kebahagiaan dan keutamaan kebaikan yang tertinggi sebagai tujuan hidup.

Karsa
Dalam diri manusia itu sendiri memiliki karsa yang berhubungan dengan rasio dan rasa. Karsa disebut dengan kemauan atau kehendak, hal ini tentunya berbeda dengan keinginan. Keinginan lebih mendekati pada senang atau cinta yang kadang-kadang berlawanan antara satu keinginan dengan keinginan lainnya dari seseorang pada waktu yang sama, keinginan belum menuju pada pelaksanaan. Kehendak atau kemauan adalah keinginan yang dipilih di antara keinginan-keinginan yang banyak untuk dilaksanakan. Adapun kehendak muncul melalui sebuah proses sebagai berikut:
Ada stimulan kedalam panca indera
Timbul keinginan-keinginan
Timbul kebimbangan, proses memilih
Menentukan pilihan kepada salah satu keinginan
Keinginan yang dipilih menjadi salah satu kemauan, selanjutnya akan dilaksanakan.
Perbuatan yang dilaksanakan dengan kesadaran dan dengan kehendaklah yang disebut dengan perbuatan budi pekerti.

Moral
Moral, etika dan akhlak memiliki pengertian yang sangat berbeda. Moral berasal dari bahasa latinyaitu mos, yang berarti adat istiadat yang menjadi dasar untuk mengukur apakah perbuatan seseorang baik atau buruk . Dapat dikatakan baik buruk suatu perbuatan secara moral, bersifat lokal. Sedangkan akhlak adalah tingkah laku baik, buruk, salah benar, penilaian ini dipandang dari sudut hukum yang ada di dalam ajaran agama. Perbedaan dengan etika, yakni Etika adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Etika terdiri dari tiga pendekatan, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika . Kaidah etika yang biasa dimunculkan dalam etika deskriptif adalah adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Sedangkan kaidah yang sering muncul dalam etika normatif, yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma, serta hak dan kewajiban. Selanjutnya yang termasuk kaidah dalam metaetika adalah ucapan-ucapan yang dikatakan pada bidang moralitas. Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa etika adalah ilmu, moral adalah ajaran, dan akhlak adalah tingkah laku manusia . 

Pembagian Akhlak
Akhlak Baik (Al-Hamidah)
1. Jujur (Ash-Shidqu)
2. Berprilaku baik (Husnul Khuluqi)
3. Malu (Al-Haya')
4. Rendah hati (At-Tawadlu')
5. Murah hati (Al-Hilmu)
6. Sabar (Ash-Shobr)
Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, semoga Allah merelakannya, berkata, "Rasulullah SAW. bersabda", "Ketika Allah mengumpulkan segenap makhluk pada hari kiamat kelak, menyerulah Penyeru", "Di manakah itu, orang-orang yang utama (ahlul fadhl) ?". Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang utama (ahlul fadhl)". "Apa keutamaan kalian ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami, jika didzalimi, kami bersabar. Jika diperlakukan buruk, kami memaafkan. Jika orang lain khilaf pada kami, kamipun tetap bermurah hati". Akhirnya dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". Setelah itu menyerulah lagi penyeru, :"Di manakan itu, orang-orang yang bersabar (ahlush shabr) ?". Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang sabar (ahlush shabr). "Kesabaran apa yang kalian maksud ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami sabar bertaat pada Allah, kamipun sabar tak bermaksiat padaNya. Akhirnya Dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". (Hilyatul Auliyaa'/ Juz III/ Hal. 140)
Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah)

Ruang Lingkup Akhlak
Akhlak pribadi
Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.
Akhlak berkeluarga
Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat. Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.
Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati. Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.
Akhlak bermasyarakat
Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.
Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.
Akhlak bernegara
Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.
Akhlak beragama
Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.



sumber : http://kanganwar.blogspot.com/

Husnudzon Pintu Kebahagiaan
Tanpa disadari tidak sedikit diantara kita yang mengembangkan pola pikir hitam-putih. Positif dan negatif secara kurang proporsional dalam memandang dan menilai semua fenomena hidup. Parameter yang digunakan seperti fenomena waktu siang dan malam. Terang dan gelap. Semua kenyataan hidup yang dirasakan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan, apalagi menyusahkan yang mengalirkan air mata, maka hal itu dipandang sebagai hal yang negatif murni. Banyak contoh yang bisa dikemukakan. Sakit misalnya. Apalagi jika sakitnya parah dimana badan tergolek tidak berdaya serta membutuhkan banyak pengeluaran biaya. Juga kenyataan hidup yang lain, seperti keterbatasan ekonomi, kebangkrutan usaha, sulit mendapatkan pekerjaan dan sebagainya.



Sebaliknya semua kenyataan hidup yang dirasakan menyenangkan, maka secara otomatis dipandang dan disikapi sebagai sesuatu yang positif. Hidup makmur serba kecukupan. Sehat terus menerus karena dukungan ekonomi cukup dan sejenisnya.

Bahwa kesempitan merupakan sesuatu yang menyulitkan benar adanya. Bahwa kelapangan hidup merupakan sesuatu yang membahagiakan, benar pula adanya. Hanya kalau berfikir bahwa kesempitan itu pasti ketidak-baikan. Sedang kelapangan pasti kebaikan. Jelas kurang proporsional. Ketahuilah dalam persepektif keselamatan di alam akhirat, keduanya-duanya bisa merupakan kebaikan dan bisa pula merupakan ketidak-baikan. Baik atau tidak baik, tolok ukurnya bukan pada fenomenanya. Tapi penyikapan manusianya atas fenomena yang dialami. Orang-orang yang berada dalam kesempitan, bisa positif jika penyikapannya positif. Sebaliknya kelapangan, bisa berbuah negatif jika penyikapannya negatif.



Sederhana untuk mengukur apakah kesempitan dan kelapangan berbuah negatif atau positif. Jika kesempitan dan kelapangan makin membuat seseorang makin dekat dengan Alloh. Makin taat dan bertakwa kepada-Nya. Itulah tanda bahwa kesempitan dan kelapangan berbuah positif. Sebaliknya kesempitan dan kelapangan berbuah negatif jika membuat seseorang makin jauh dari-Nya. Banyaknya diantara manusia mencari kelapangan untuk banyak tertawa. Sebaliknya berusaha menghindari kesempitan dalam bentuk apapun agar terhindar dari berurai air mata. Padahal keduanya laksana siang dan malam yang selalu diperputarkan oleh Alloh pada setiap manusia. Tidak ada manusia yang bisa bahagia selamanya. Meskipun dia kaya-raya dan berkuasa sekalipun. Dan tidak ada pula manusia yang menangis terus-menerus meski hidupnya paling miskin sekalipun.



Ketauhilah oleh kita semua bahwa lapang dan sempit merupakan media kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dengan kelapangan dan kesempitan, sesungguhnya Alloh berkehendak agar hamba-Nya selamat di negeri akhirat. Adakalanya Alloh menghadirkan kelapangan agar hamba-Nya banyak bersyukur kepada-Nya. Adakalanya Alloh menghadirkan kesempitan agar hamba-Nya kembali mengingat-Nya. Masukkan kedalam hati sebagai hikmah firman-Nya ini,” Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS : Al A’Roof (7) : 168).

Sangat jelas Alloh memberitahu manusia dalam firman-Nya itu. Nikmat dan bencana. Kelapangan dan kesempitan, Alloh yang menghadirkan. Kedua-duanya, tujuannya satu dan sama, yaitu agar manusia kembali kepada kebenaran. Kembali kepada jalan yang diridhoi-Nya.



Hanya sayang manusia sering terhalang oleh nafsu dalam dirinya untuk jernih dalam memahami maksud baik Tuhan-Nya. Ketika dalam kesempitan, sering jatuh kepada keluh kesah dan berputus asa. Sebaliknya ketika terbuka pintu-pintu kelapangan, sering lepas kendali lalu banyak bermaksiat serta lupa kepada Tuhan-Nya.

Kalau selama ini ada diantara kita yang menggunakan kacamata hitam putih dalam menilai kesempitan dan kelapangan hidup, maka rasanya mulai sekarang mesti kita koreksi ulang. Sempit dan lapang mesti kita sikapi secara arif dan bijaksana. Saat dalam kesempitan selami dengan perenungan yang dalam. Mencari makna dan hikmah yang hendak Alloh anugrahkan kepada diri dan keluarga dengan kesempitan itu. Mungkin kita perlu introspeksi diri atas perbuatan dan perilaku diri selama ini. Mungkin Alloh bekehendak mengingatkan, menegur agar kita kembali Kepada jalan-Nya. Seperti orang tua yang menjewer telinga anaknya karena nakal. Orang tua bermaksud baik agar anaknya meninggalkan perbuatan jeleknya. Mungkin Alloh menegur kita agar kita menjadi orang yang bertakwa.



Demikian pula jika Alloh menghadirkan kelapangan dalam kehidupan kita. Sadari bahwa kelapangan itu bukan menjadi pengantar kita menjadi bebas merdeka, laksana burung terbang di angkasa. Bisa hidup semau-maunya. Kelapangan itu merupakan media-Nya agar diri memperbanyak syukur kepada-Nya. Menggunakan kelapangan untuk media banyak beribadah kepada-Nya dan banyak berbuat baik kepada sesama. Gunakan kelapangan untuk menumpuk kebaikan sebanyak-banyaknya. Kabaikan yang akan menjadi bekal perjalanan pulang menghadap kepada-Nya.



Saudaraku, dalam hidup kekinian kita di muka bumi, sejujurnya tidaklah mudah untuk menjadi hamba-Nya yang bisa berendah hati atas segala keputusan-Nya. Yaitu hamba yang selalu berhusnudhon, berbaik sangka kepada-Nya. Hamba yang mau mengambil pelajaran dan hikmah atas setiap keputusan-Nya. Tantangannya adalah arus kehidupan yang berputar deras, skenario naskahnya banyak ditulis dan disutradarai oleh manusia-manusia yang ingkar kepada-Nya. Dunia kita ini dikuasai oleh para penganut faham materialisme dan hedonisme. Mereka melalui penguasaan ilmu, media dan informasi, terus-menerus menggiring kita untuk menganut pola pikir yang sama dengan mereka. Pola pikir yang menjadikan kenikmatan duniawi sebagai dewanya. Kitapun, jika tidak berhati-hati, makin menjauh dari referensi Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dalam menyikapi segala sesuatu dalam kehidupan.



Alangkah indah dan damainya hati ini andai diri menyadari sepenuhnya bahwa diri ini dihidupkan, bukan hidup sendiri. Lalu menyadari bahwa diatas kehidupan kita ada Sang Maha Pengatur yang mengatur semua fenomena-fenomena yang mesti kita jalani. Dengan kesadaran itu, kita akan menjadi manusia yang bisa selalu berbaik sangka kepada-Nya atas semua ketentuan-Nya. Dan baik sangka kita itu akan menjadi pintu terbukanya berbagai hikmah yang memperkaya ruhaniyah kita. Juga memperberat pundi-pundi catatan pahala amal kebaikan disisi-Nya.



Dengan kesadaran semacam itu, maka kita akan mampu membangun pola pikir positif atas semua pengalaman dalam hidup. Sempit dan lapang bisa dipersepsi sama baiknya bagi kemaslahatan diri. Kalaupun sempit disikapi laksana minum obat dikala sakit. Minum obat rasanya pahit. Tapi justru untuk tujuan penyembuhan. Ketika lapang tidak lalu menjadikan diri lupa daratan. Justru ketika lapang hati makin mawas diri. Makin menyadari bahwa dalam kelapangan tantangannya justru jauh lebih besar dibanding kesempitan. Dalam kelapangan hati dan pikiran bisa lebih mudah untuk tenggelam dalam kelalaian.


Akhirnya mari kita memohon kepada Alloh,” Semoga diri dan keluarga kita semua dikaruniai kekuatan dan ketetapan hati agar senantiasa bisa selalu berbaik sangka kepada-Nya dalam segala keadaan baik sempit maupun lapang. Semoga kelak kita dan keluarga saat kembali kepada-Nya termasuk kedalam golongan orang-orang yang ikhlas dan sabar.”

Mulyanya Mema'afkan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A'raf 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

Menurut Harun Yahya Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang.
Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.


 Orang-orang yang banyak menganggur dalam hidup ini, biasanya akan menjadi penebar isu, fitnah dan desas-desus yang tak bermanfaat. Hal ini disebabkan akal pikiran mereka selalu melayang-layang tak tahu arah tujuan.
Mulai saat inilah tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu introspeksi diri, sejauh mana dada dan hati kita memaafkan kesalahan orang lain atau meminta maaf atas segala kesalahan kita. Hindari sikap egoisme dalam diri yang membuat setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya. Karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya serta selalu mementingkan kemaslahatan ummah.

Manfaatkan Waktu Produktif untuk Beraktifitas

Ketahuilah! bahwa saat yang berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya menganggur dan tak berbuat apa-apa. Orang seperti itu, ibarat mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir, akan mudah oleng ke kanan dan ke kiri.

Bila pada suatu hari anda mendapatkan diri anda menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah untuk bersedih, gundah, dan cemas! sebab, dalam keadaan kosong itulah pikiran anda akan menerawang ke mana-mana; mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu anda alami. Itu membuat akal pikiran anda tak terkendali dan mudah lepas kontrol.

Maka mari isi waktu dengan aktifitas-aktifitas mulai dari yang ringan-ringan asal kita menjadi semangat dan bermanfaat seperti; shalat, membaca buku, bertasbih, menkaji, menulis, merapikan, merawat hewan peliharaan, merawat kebun, membantu pekerjaan orang lain dll. "Nikmati Hidup dengan semangat".


Senang Menghargai Usaha Orang Lain

Ada pelajaran penting yang dapat kita tangkap dari interaksi sosial yang berlangsung setiap harinya; yaitu betapa banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling kita, alangkah baiknya jika kita senantiasa menghargai usaha-usaha mereka, dengan harapan bisa memberi semangat dan menambah hangat dalam menjalin hubungan silaturahmi.

Berilah perhatian terhadap orang lain, ungkapkan rasa terima kasih anda terhadap hasil karya orang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Assalamu'alaikum, dipersilakan untuk berkenan memberikan tanggapan komentar yang sekiranya menambah berbobot atas artikel-artikel di blog ini. Mohon maaf jika isi artikel ini dikutip/ dicopas dari berbagai sumber..