Oleh : farhan (VII C) Washington - Rumus e=mc2 yang diungkapkan oleh Einstein, setelah 103 tahun ternyata terbukti kebenarannya. Di masa mendatang diperkirakan akan sulit mencari manusia yang memiliki kejeniusan seperti Einstein. Jangan-jangan dialah orang jenius terakhir.
Pendobrak ilmu pengetahuan yang berhasil mencatat sejarah adalah individu yang melakukan penelitian di lab atau mempelajari benda angkasa sendirian seperti Galileo, Copernicus dan Thomas A Edison.
Tapi kini, penelitan lebih bersifat bisnis. Lembaga penelitian besar dibentuk untuk mendapatkan pendanaan dalam jumlah besar. Hal itu terjadi terutama setelah Soviet sukses meluncurkan Sputnik pada 1957. Tren kemudian lebih mengandalkan pada institusi penelitian besar dengan mengumpulkan pendanaan dalam jumlah besar pula.
Hingga kini belum terbukti dunia kembali menghasilkan ilmuwan besar. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peraih penghargaan Nobel pada 2005 menemukan, jalan pengetahuan semakin panjang, sebelum dapat menghasilkan terobosan.
Usia pemikir dalam menghasilkan inovasi yang benar-benar berwujud nyata juga menjadi lebih panjang 6 tahun. Oleh karena itu jangan berharap dunia akan menghasilkan jenius baru dalam waktu singkat.
Ilmuwan Duke University Adrian Bejan yang pertama menelurkan teori keseimbangan antara individu dan institusi menilai, keuntungan penelitian lewat organisasi besar adalah terorganisir secara alamiah. Namun ilmuwan yang bekerja sendiri adalah yang dapat menghasilkan ide brilian.
"Sejarah perkembangan ilmu ditandai dengan peneliti individu dari Archimedes ke Newton hingga Darwin," kata Bejan.
"Pemikir yang bekerja sendiri mampu mencatat sejarah karena alami, meskipun tren penelitian melalui kelompok besar. Peneliti yang bekerja sendiri selalu yang menghasilkan dobrakan,” katanya seperti tertulis di International Journal of Design & Nature and Ecodynamics edisi Desember.
Penelitian secara modern makin terpacu, setelah bekas Uni Soviet sukses sebagai negara pertama yang mencapai angkasa luar dengan Sputnik pada 4 Oktober 1957. Malu dengan keberhasilan negara musuhnya, AS secara dramatis membelanjakan dana besar ke lembaga penelitian.
Lembaga yang lebih kecil tak mau ketinggalan, membentuk lembaga yang lebih besar agar mendapatkan pendanaan. Tapi, kata Bejan pemikir yang memilih bekerja sendirian tidak hilang begitu saja.
"Kelompok riset yang berhasil adalah yang tumbuh dan memberikan waktunya secara terus-menerus. Misalnya saja orang yang memiliki ide cemerlang, dapat pendanaan dan terbentuk kelompok baru untuk mengembangkan ide itu lebih jauh. Ini membentuk kerangka, dimana kelompok yang lebih kecil memberikan kontribusi secara lebih besar,” jelasnya.
"Jika lembaga dibentuk hanya oleh peneliti yang bekerja sendiri, mungkin punya banyak ide tapi sulit untuk mendapat bantuan. Di lain pihak, kelompok akan memiliki banyak bantuan, namun hanya memiliki sedikit ide,” katanya
Namun masalah ini bisa dipecahkan dengan gaya penelitian Soviet masa lalu. Pemerintah Soviet menentukan tujuan dan skop penelitian, serta membentuk struktur monopolitik ilmuwan yang memiliki satu pemikiran.
Jadi tidak ada pertentangan dengan individu-individu, tapi lebih pada keseimbangan. Selain itu lembaga pemerintahan dapat memberi dukungan pada individu yang menunjukkan kemajuan besar.
"Saya tidak setuju jika kelompok besar dikatakan hanya mencari pendanaan, atau memperindah curriculum vitae, atau memperbanyak laporan penelitian dan melupakan penelitian yang sesungguhnya," kata Bejan.























Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Assalamu'alaikum, dipersilakan untuk berkenan memberikan tanggapan komentar yang sekiranya menambah berbobot atas artikel-artikel di blog ini. Mohon maaf jika isi artikel ini dikutip/ dicopas dari berbagai sumber..